Ini tentang kematian,..
Yang hanya berselang dua pekan,terjadi pada A dan B.Tetapi mendapat respon yang berbeda dari C,berikut adalah reaksi C ketika mendengar kematian keduanya :
Ketika kematian A terdengar “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun,Alhamdulillah akhirnya meninggal juga”
Ketika kematian B terdengar “Innalillahi! Jangan bercanda kamu!Masa’ B bisa meninggal?? Bagaimana bisa?!gak mungkin…”
Saya paham,Anda pasti mengira A tersebut sekarat untuk waktu yang lama,hidup segan matipun enggan,iya Anda benar.
Dan mungkin Anda membayangkan B adalah orang yang masih muda dengan prestasi gemilang,atau mungkin orang dengan jalan hidup yang ‘harusnya’ masih panjang, kurang lebih memang seperti itu.
Si B yang saya kenal adalah anak yang baik,manis dan penurut.
Kami bertemu kurang lebih sepuluhan tahun yang lalu,dia dan kakaknya diasuh oleh buliknya selepas orang tua mereka meninggal.Mereka tinggal tepat sebelah rumah saya.
Si B seusia adik saya,dan belum tamat SMA.Mereka sebenarnya mempunyai keluarga besar yang cukup perhatian dan peduli,juga sebisa mungkin memberikan apa yang dibutuhkan,tapi ternyata kehilangan orang tua sangat memukul mereka hingga saat ini.
Selepas SMP keduanya mengalami kelabilan fikiran, mereka jadi pendiam dan pemurung di sekolah dan rumah. Labil disini maksudnya adalah proses pencarian jati diri yang masih terpusat pada pemikiran yang belum sampai saja,dan mereka menyimpan sendiri apa yang mereka pikirkan.
Sering melamun dan pikiran kosong akhirnya membuka pintu ajaib dunia lain. Iya benar, mereka sering kesurupan dan tubuhnya di’kost’in makhluk lain.Awalnya adalah sang kakak, kemudian sang Adik juga mengalami hal serupa. Mungkin bagi makhluk makhluk itu tubuh mereka sudah seperti resort pulau tropis yang super yahud, VVIP, atau barangkali sudah president suit?penthouse?? I don’t know, saya tidak ikut serta ketika mereka diwawancara
Dan dalam kasus ini mereka juga sudah beberapa kali diruqyah,terakhir bahkan si B ini pernah berujar pada Ibu saya ketika beliau menemaninya ruqyah,.
“budhe,kulo saged matun mboten nggih bu??” (buddhe,saya bisa sembuh gak ya bu?) dengan mata berkaca kaca
“yo iso,asal kowe tlaten lan nguati bentengmu,alon alon rapopo le,.. “(ya bisa,asal kamu telaten dan menguatkan bentengmu.pelan pelan gak apa apa nak,..)
“nggih bu,..” (iya bu,..) sambil menunduk
Pada kesempatan sebelumnya,sebelum anak itu mengalami perang batin.Dia pernah meminta kepada ibu saya:
“budhe,kulo dados anakke njenengan mawon nggih?”(budhe,saya jadi anaknya ibu saja ya?)dengan nada bergetar
“iyo le…”(iya nak..)
“saestu nggih bu?”(beneran ya bu?)
“iya”
Tetapi ibu saya belum bisa untul meluluskan permintaan anak itu,bagaimanapun dia masih punya keluarga besar yang peduli padanya,bukannya tidak mau tetapi ibu saya takut keluarganya akan tersinggung karena permintaan anak itu.Dan sampai sekarang ibu saya sangat menyesal dan menyayangkan kenapa dulu tidak meluluskan permintaan itu.
Dari beberapa cerita ibu kepada saya,saya tahu seberapa besar keinginan si B untuk sembuh dan bisa hidup normal. Dan dia menyadari betapa parahnya kondisinya saat itu, makhluk didalam tubuhnya sudah teramat sayang pada tubuh itu,sehingga dia mengajak teman temannya untuk menginap disitu juga,dengan jumlah dan waktu yang saya tidak tahu.
Tapi,kematangan fikiran yang belum ada membuat anak itu masih sering memikirkan bagaimana masa depannya, ketakutan ketakutan akan sesuatu yang dibuat oleh fikirannya sendiri, serta paranoid pada diri dan hidupnya juga godaan godaan dari makhluk itu,membuatnya memilih ajal,dengan kesadaran atau tidak dia memilih mengakhiri ketakutannya dengan tali dan menggantung lehernya seketika.
Makhluk yang terkutuk itu,dengan segala tipu daya memilih manusia yang baru beranjak dewasa,menyuruhnya menyakiti diri sendiri dan orang lain,menyuruh mengiris kulit dan memotong organnya sendiri dan menyuruh membunuh orang lain dan membunuh dirinya sendiri,dan dia berhasil.
Makhluk yang terkutuk itu,bisa menjelma menjadi apa pun,selama itu menyeru pada keburukan maka itulah kongsinya. Dia bisa berupa kebijakan,dia bisa berupa permainan politik,dia bisa berupa permainan ideology,yang membodohi dan merenggut masa depan masyarakat yang belum dewasa. Dan dia bisa berupa sebuah perang tak berkesudahan,perang yang seluruh dunia mengetahui kebenaran tetapi tetap menutup mata,iya,disitulah makhluk itu beranak pinak.
Ini tentang kematian, dan itu sangat pasti,lebih pasti daripada jodoh dan rezeki.
Tapi kenapa orang lebih peduli dengan
bagaimana dia hidup,bukan bagaimana dia mati .
“semoga Allah melapangkan hatimu dan membebaskan dirimu dari segala hal yang memberatkanmu didunia dan akherat,dan mengganti kesusahanmu dengan kebahagiaan yang kekal disisiNya,amin”
