A Simply Way to Heaven

Dari Abu Hamzah,Anas bin Malik r.a,dan dari Rasulullah beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang  diantara kamu sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri (H.R Bukhori Muslim)

Saya mengenal hadits diatas sejak SMA,beberapa kali diajarkan,beberapa kali dihapal dan seringkali diperdengarkan hingga saya hafal betul sanad dan matannya.Ok saya ralat,saya tidak benar benar menghafal sanadnya kecuali dari Anas ibn Malik,sebelum itu saya lupa.Kebetulan saya baru saja membuka hadits  Arba’in dan menemukan bahwa ada Abu Hamzah sebelum Anas.

Anda tahu,dalam ilmu hadits keshohihan sanad yang tak terputus itu penting sekali,luar biasa penting daripada matan atau bunyi hadits itu sendiri.Saya sangat salut dengan para perowi dan tabi’ut tabi’in yang telah menjaga ingatannya hingga sebuah hadits berhasil dirunut dan berakhir dengan sabda Rasulullah.Bagaimana tiap kata harus selalu sama dari tabi’in terakhir hingga Rasulullah dan bagaimana sebuah sabda bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan keasliannya karena pada masa itu Rasul melarang menuliskan sabdanya kecuali dari Alqur’an demi menjaga kemurnian Alqur’an,..hmmm,islam luar biasa bukan?? :mrgreen:

Jadi,singkat kata singkat cerita,hadits disusun setelah masa Rasululullah dan tiap hadits yang bisa dengan mudah kita temui sekarang ini telah melalui ratusan bahkan ribuan sanad/jalan/penghafal beda generasi untuk dibuktikan keshohihannya.

Ok,kita cukupkan kuliah tentang hadits :mrgreen:

Karena yang saya ingin bahas adalah kandungan atau pesan dari hadits itu sendiri. Saya bukan ahli hadits dan tidak benar benar mempelajari ilmu hadits secara khusus,saya juga bukan ustadzah atau daiyah yang mendalami islam dan fasih mendakwahkannya  kepada umat.Saya hanyalah seseorang dengan fikiran sederhana dan melihat sesuatu yang sederhana kemudian mengaitkannya dengan sesuatu yang pernah saya pelajari.wuiiihhhhh,….dalem chiiiinnn :lol:

Mari kita mulai dengan cinta,hehee

“Sejauh mana kita bisa sungguh sungguh mencintai saudara kita dan siapakah ‘saudara’ kita itu??”

Beberapa pekan yang lalu,saya mengalami dan menyaksikan sebuah fenomena yang bisa kita sebut dengan lingkungan militer.Dilingkungan tersebut saya melihat “topeng” dimana dimana,senyum sumringah dan kepatuhan yang takzim saya temui hampir disemua lini,dari anak,ibu ibu,tentara hingga tukang sayur yang tiap pagi lewat,ok kita sisihkan tukang sayur karena kalau gak begitu gak ada yang mau beli.

Di lingkungan ini,yang notabene sangat menjunjung tinggi senioritas telah berhasil membuat penghuninya menandatangani kontrak seumur hidup yang sering digadangkan dengan sebutan Pengabdian kepada Negara.Mengorbankan segala hal yang dibutuhkan termasuk keluarga.

Tidak ada yang salah dengan itu karena saya juga meyakini itu adalah cara untuk “menjaga pengabdian” mereka.Apa yang sudah mereka bayarkan memanglah sangat mahal demi menjaga keutuhan bangsa ini.

Tetapi bagi saya yang baru melihat dan mengalaminya,maka saya mulai berfikir dimana letaknya ikhlas?apakah kata itu pernah diakui keberadaannya disini??benarkah orang orang ini sungguh “mencintai” atasannya sebagaimana yang nampak??Ahh,saya sulit menjawab ‘iya’

Tetapi kemudian,ketika saya melakukan kunjungan harian ke sebuah rumah pengerajin tahu maka saya tidak membutuhkan jawaban lagi sama sekali.

Namanya mang Bubun,lelaki paruh baya kurus yang tidak pernah mengenyam pendidikan.Mempunyai istri yang jauh lebih muda dan cantik,dan terawat.Jika melihat keduanya secara bersamaan akan sulit dipercaya bahwa mereka suami istri.Mereka mempunyai dua anak usia SD.

Di rumah ini tinggal seorang lagi lelaki,paruh baya dan mempunyai mental tidak genap.Dia melakukan segala sesuatu sekehendaknya,belum mau bekerja kalo belum dikasih makan dan rokok,padahal jatah makannya bisa lebih dari dua orang lelaki dewasa,akibatnya anak dan istri mang Bubun sering tidak mendapat jatah makan.Kadang disengaja tidak disediakan lauk,namun dengan tanpa bersalah dia mengambil lebih dari 10 tahu mentah dalam sehari sebagai lauk nasinya,itu bernilai lebih dari 10ribu,dan untuk keadaan yang baru memulai bisnis maka kondisi tersebut sangat merugikan.

Sering juga,ketika sudah kenyang dia bisa tiba tiba ambruk tertidur,dimanapun itu,ditanah,dikolong dipintu bahkan sedang berdiri.Dengan aksi yang mendadak itu dia sukses memecahkan hampir semua perabot pecah belah punya mang Bubun hingga tak ada satupun yang tersisa untuk makan dan minum.Dan bisa dikatakan bahwa pekerjaan yang berhasil dilakukannya jauh dari kata beres.

Awalnya saya sangka dia adalah saudara atau siapa pun yang sengaja dibawa mang Bubun untuk meringankan pekerjaannya di pabrik tahu ini.Tapi ternyata dia hanyalah orang yang di’titip’kan oleh mantan teman bisnis mang Bubun yang sudah lama diberhentikan karena “doyan uang”.Tak ada permisi tak ada pembukaan,orang tersebut langsung membawa lelaki beserta baju bajunya ke rumah mang Bubun lantas pergi.Baru saya ketahui kemudian ternyata dia dan lelaki itu masih seayah ibu.

Mendengar segala hal yang menjengkelkan dan merugikan diatas saya dengan emosi langsung menganjurkan mang Bubun untuk “membuang”nya saja jika dia tidak bersedia dipulangkan atau tak ada yang menjemput.Karena keberadaan saya saat itu adalah sebagai orang yang dipercaya untuk membawa pabrik tahu itu kearah yang lebih baik,dari segi bisnis tentunya.Dan saya berhak jika tidak menghendaki sesuatu yang bisa menghambat saya melakukan tugas saya.

Namun,coba tebak jawaban apa yang saya terima dari mang Bubun??Dengan logat sunda lugu belia menjawab:

“Orang seperti itu juga disayang sama Allah,bagaimana saya bisa tidak menyanyangi sesuatu yang disayangi olehNYa??”

Subhanallah,speechless,….maluuuuuuuuuu rasanya,oh bumi telan saja aku ini :oops:

“wahai mang Bubun,berbahagialah,..barangkali dia bisa menjadi salah satu tiketmu ke syurga”

Best Regards

Citra Widya Hapsari

2 Komentar to “A Simply Way to Heaven”

  1. Subhanallah….. salut sama Mang Bubun. Tidak banyak orang bisa seperti beliau.

    Marhaban ya ramadan
    semoga kita termasuk orang yang berbahagia dengan datangnya bulan ramadlan dan diberi kesempatan untuk meraup keridloaan Allah

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.